Sindangkempeng adalah desa yang terletak pada kecamatan pancalang Kabupaten Kuningan Cirebon Jawa Barat, Indonesia. Desa ini dinamai Sindangkempeng karena dipercayai konon orang-orang yang mengunjungi Sindang Kempeng akan merasa betah dan enggan untuk pulang.
Menurut cerita salah satu sesepuh Desa sindangkempeng ini berawal dari salah satu tokoh yang bernama Ki Buyut Serang, Ki Buyut Serang ini datang dr arah barat Desa Sindangkempeng bersama muridnya.pada saat itu Ki Buyut serang sedang dikejar-kejar oleh tentara dari suatu kerajaan karena dianggap melakukan pelanggaran,entah apa pelanggarannya,yang pasti Ki Buyut Serang dan muridnya berlari sampai disuatu hutan yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Pada saat sedang istirahat Ki Buyut merasa haus dan di peganglah salah satu pohon yang berada dekat dengannya, seketika itu pohon kelapa pun menunduk lantas murid ki buyut mengambil kelapa tersebut dan sekarang diyakini masyarakat tempat istirahat ki buyut tersebut berada di hutan bubulak sebelah barat Desa Sindangkempeng.
Setelah hilang haus dan tenaga pulih kembali Ki buyut beserta muridnya melanjutkan perjalanannya ke arah timur, disitu kibuyut dan muridnya menelusuri sungai dan tiba-tiba terdengar suara tangisan bayi,maka dicarilah asal suara tersebut dan ternyata benar itu adalah tangisan bayi.
Awalnya bayi tersebut ingin dirawat tetapi hal tersebut tidak memungkinkan karena si jabang bayi masih membutuhkan susu, maka dari itu bayi tersebut dibuatkan peti oleh kibuyut dan dihanyutkan disungai agar siapa tau ada yg menemui bayi tersebut tapi ternyata jabang bayi itu terhanyut sampai ke laut di pesisir Cirebon. Lalu ditemukan oleh salah satu pembesar di Cirebon, konon bayi itu meninggal dan dikuburkan di cirebon yang saat ini kemungkinan disebut makam JABANG BAYI yang berada di daerah Kesambi Cirebon, dan untuk mengenang si jabang bayi ki buyut bersama muridnya membabat alas hutan dimana diketemukan jabang bayi tersebut dan dijadikan pedukuha yang dinamakan SINDANGKEMPENG yang berarti SINDANG : silahkan ,KEMPENG : mampir.

Komentar
Posting Komentar